Teks Kritik dan Teks Esai


Nama : Anggun Puspita Febiyanti

Kelas : XII MIPA 9

NO. Absen : 02 


Teks Kritik 

Cita dan Cinta 'Keluarga Cemara'

oleh : Anggun Puspita Febiyanti

Harta yang paling berharga adalah keluarga, istana yang paling indah adalah keluarga. Itulah yang menjadi iconic word dalam film ini. Hidup sederhana bukanlah nasib buruk maupun bentuk kemalangan. Kebahagiaan tidak harus diraih dengan harta. Kehangatan dalam keluarga menjadi kebahagiaan yang sebenarnya. Bersyukur dengan apa yang diberikan oleh Tuhan kepada kita. 

Begitulah yang ingin disampaikan oleh film yang berjudul keluarga cemara, film ini merupakan adaptasi dari cerita bersambung yang dimuat di majalah Hai dan kemudian menjadi novel berseri karya Arswendo Atmowiloto dan sinetron yang berjudul sama. Film keluarga cemara mendapat banyak penghargaan perfilman yaitu festival film Indonesia 2019 dengan kategori skenario adaptasi terbaik dan lagu tema terbaik “Harta Berharga”. Film ini mendapatkan penghargaan karena memang film yang di garap Yandy Laurens ini sangat baik dan mengandung nilai moral yang tinggi.

Keluarga cemara versi film ini mengangkat cerita dari kondisi keluarga abah (Ringgo Agus Rahman) yang kaya lalu menjadi jatuh miskin dan harus pindah ke tempat yang sederhana, karena masalah semua harta benda yang di miliki Abah dan Emak (Nirina zubir) disita. Kedua anaknya yang terbiasa hidup mewah terpaksa harus ikut ke kampung halaman Abah yang jauh dari kota. Abah dan Emak memiliki dua anak bernama Euis dan Ara, di film ini sebagai anak penurut dan memahami kondisi keluarga. Namun, di lain sisi mereka juga memiliki impian akan kehidupan mereka kedepannnya.

Nilai-nilai kehidupan yang baik sangat dirasakan penonton pada setiap scene-nya. Emak dan Abah berjuang agar kehidupan keluarga mereka tidak semakin terpuruk. Sikap tabah ini bisa  menjadikan nilai kehidupan kita sehari-hari. Sikap anggota keluarga Abah yang masih bisa bersenda gurau ditengah cobaan dan penurunan gaya hidup yang mereka alami merupakan inspirasi bagi kita dalam menyikapi masalah.Tak hanya itu, dari film ini, kita bisa melihat kalau harta bukanlah satu-satunya alasan untuk bahagia. Masih banyak alasan untuk menjadi bahagia, salah satunya adalah keluarga. 

Film ini berhasil memberikan gambaran kehangatan keluarga yang sangat dekat dengan penonton. Perjuangan dan pengorbanan orangtua demi mimpi anak bisa berupa kekuatan dan yang diberikan kepada anak untuk yakin dengan mimpi yang diinginkan.  

Film keluarga cemara tidak hanya menyempaikan cerita yang mendalam, namun juga memberikan kehangatan kepada penonton lewat acting pemain yang natural meskipun masih ada acting pemain yang belum mulus. Pengambilan gambar yang apik dan lagu dengan tema keluarga ini menambahkan suasana mengharukan menjadi lebih bagus. Hal lain yang menjadi keunggulan film ini yaitu tak hanya di setiap scene diberikan cerita yang sedih namun juga ada scene yang membuat kita tertawa dengan kenaturalan acting para pemeran. Alur cerita juga dirangkai dengan begitu baik, konflik-konflik yang dibangun juga mudah dimengerti membuat film ini bisa di tonton oleh kalangan manapun.  

Sayangnya, ada beberapa detail kekinian yang justru mengganggu menjadikan kekurangan dalam film ini, yaitu seperti kehadiran penyedia transportasi daring. Kemunculan yang cukup sering dan dikesankan sebagai penyelamat itu membuat film Keluarga Cemara terasa mempromosikan mereka.

Terdapat adegan yang masih terasa seperti sinetron kaca. Misalnya saat Abah kecelakaan. Penonton seolah-olah diberi ‘kode’ lewat dialog bahwa kecelakaan itu akan terjadi. Ada juga dialog yang salah , yaitu saat Abah memberitahu Ara bahwa dia akan memiliki adik, tapi Abah malah mengucapkan “ Ara mau punya adik lagi” dialog itu terasa janggal padahal Ara belum punya adik. 

Terlepas dari kelebihan dan kekurangan film keluarga cemara, film ini bisa di tonton bersama keluarga tanpa ada batasan kalangan, nilai-nilai baik yang terkandung dalam film ini bisa kita tiru dalam kehidupan. Harapan penonton pada film Keluarga Cemara 2 yang akan segera di tayangkan lebih baik dari film Keluarga Cemara 1 dan nilai-nilai kehidupan tetap ada. 



Teks Esai 

Lunturnya Budaya Indonesia

oleh : Anggun Puspita Febiyanti

Indonesia merupakan negara kepulauan, banyak keanekaragaman budaya, etnis, agama, aupun linguistik yang dapat ditemukan di Indonesia. Semboyan Bhineka Tunggal Ika (Kesatuan dalam Keragaman) mengacu pada komposisi beragam negara ini. Motto ini juga menunjukkan bahwa, biarpun masyarakat multikultural, ada perasaan kesatuan sejati di pikiran dan hati masyarakat Indonesia. Pada daerah-daerah tertentu terdapat peninggalan-peninggalan yang eksis atau terekam sampai sekarang yang kemudian menjadi warisan budaya. Warisan budaya inilah yang nantinya akan diturunkan dari generasi ke generasi sehingga menjadi tradisi di setiap jejaknya.

Ditinjau dari segi SDM, Indonesia memiliki lebih dari 200 juta jiwa yang berasal dari ribuan suku maupun etnis yang masing-masing memiliki karakter dan ciri khas yang berbeda-beda. Menurut sensus BPS (Badan Pusat Statistik) tahun 2010, terdapat 1.340 suku yang ada di Indonesia yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Dengan beragamnya suku yang ada, menyebabkan dinamika sosial yang beragam pula. Beragam suku bangsa hidup berdampingan dengan latar belakang kehidupan yang berbeda. Tarian, bahasa, rumah adat, pakaian adat hingga upacara-upacara adat adalah ragam kebudayaan yang menunjukkan karakter setiap suku yang ada di bumi pertiwi.

Sayangnya, untuk kita, bangsa Indonesia, budaya kian terpinggirkan dari kehidupan berbangsa. Semakin berkembangnya teknologi membuat budaya banyak dilupakan dan ditinggalkan terutama oleh kalangan remaja. Padahal, seharusnya kita harus tetap menghargai budaya yang diturunkan dari generasi sebelumnya untuk dilestarikan, bukan untuk dihilangkan. Hal ini disebabkan oleh perkembangan zaman yaitu globalisasi.

Globalisasi merupakan suatu fenomena khusus dalam peradaban manusia yang bergerak secara terus-menerus ke dalam masyarakat global dan merupakan bagian dari kehidupan manusia. Sehingga, manusia itu sendiri tidak bisa menolak adanya pengaruh dari globalisasi karena baik sadar maupun tidak, globalisasi akan masuk dengan sendirinya ke kehidupan bermasyarakat. Munculnya proses globalisasi dan modernisasi zaman, lambat laun juga mengakibatkan nilai-nilai kebudayaan yang ada terkikis bahkan tersisihkan, sehingga berakibat banyak kebudayaan yang tidak lagi “dikenali” oleh pemuda pemudi zaman sekarang dikarenakan kurangnya perhatian dan upaya pelestariannya. Namun, kebudayaan Indonesia semakin luntur ditelan zaman.

Terdapat faktor internal dan faktor eksternal yang melunturkan kebudayaan di Indonesia. Pada faktor internal, misalnya, disebabkan oleh rakyat kita sendiri yang mengabaikan budaya terutama untuk kalangan remaja. Kita terbuai oleh kehidupan modern dan mulai melupakan nilai-nilai yang diwariskan oleh nenek moyang kita. Sebagai contoh, bahasa daerah, upacara budaya, adat dan tradisi Indonesia telah hilang di masyarakat. Sekarang, kita bisa melihat ada yang tidak mau berbicara menggunakan bahasa lokal karena mereka malu. Selain remaja yang sudah tidak peduli lagi dengan budaya, pemerintah juga kurang responsif dalam menangani masalah ini. Tidak ada upaya yang nyata dari pemerintah untuk mempertahankan budaya Indonesia.

Pada faktor eksternal, misalnya, disebabkan oleh derasnya arus informasi yang datang ke Indonesia . Banyak budaya asing, khususnya budaya Barat telah datang dan tumbuh di Indonesia. Saat ini, kita bisa melihat mode pakaian yang tidak sesuai dengan norma-norma, kebiasaan mabuk, dan gaya hidup yang buruk telah berkembang di Indonesia. Tidak hanya harus menyadarkan diri sendiri, peran orang tua juga sangat penting dalam mengembangkan kebudayaan pada anak-anaknya. Sebagai upaya melestarikan dan memelihara kebudayaan Indonesia sangat perlu dan harus dilakukan. Masyarakat Indonesia harus banyak mempelajari sejarah kebudayaannya. Serta membuat budaya sebagai identitas bangsa, kita juga seharusnya tidak terpengaruh oleh budaya asing.

Di lain pihak, sudah banyak sekali kasus bahwa budaya kita banyak yang dicuri karena ketidakpedulian generasi penerus. Masyarakat kita kini sudah meninggalkan nilai-nilai tersebut, padahal inilah identitas budaya kita. Pemerintah sebagai institusi formal yang bertanggung jawab atas kelestarian budaya Indonesia harus intensif melakukan sosialisasi kebudayaan Indonesia ke dunia internasional melalui forum-forum resmi seperti pendaftaran budaya Indonesia sebagai warisan dunia kepada UNESCO sehingga tidak ada lagi kasus klaim kebudayaan Indonesia oleh negara lain. 

Ketika kebudayaan kita tidak luntur dan hilang, maka Bangsa Indonesia tidak akan kehilangan jati diri dan identitasnya. Karena itu, kadar cinta dan kebanggaan akan kebudayaan Indonesia harus senantiasa dipelihara dan dikuatkan sehingga akhirnya eksistensi budaya maka akan memperkuat identitas bangsa Indonesia sebagai bangsa yang besar. Jika bukan generasi kita sendiri yang melestarikan lalu siapa lagi? Kita sebagai generasi milenial harus lebih pintar lagi dalam memanfaatkan teknologi dengan benar, kita harus bisa menyetarakan, antara teknologi dan budaya sendiri agar lebih balance.




















Komentar

  1. dari kedua teks sudah bagus. keduanya memiliki ciri kebahasaan yang tepat, tema yang menarik, strukturnya sudah benar

    BalasHapus
  2. Teks esai dan kritik nya sudah bagus dan sudah sesuai dengan kaidah kebahasaan nya 👍🏻

    BalasHapus
  3. Teks esai dan Kritiknya sudah sesuai struktur dan kaidah kebahasaan, materi yang dipaparkan dalam teks pun sangat menarik.

    BalasHapus
  4. Teks kritik dan esai sudah ditulis dengan baik dengan judul yang menarik

    BalasHapus
  5. Teks kritik tersebut sudah dibuat dengan menilai secara objektif karya film keluarga cemara dan menggunakan struktur juga kaidah kebahasaan yang sesuai. Esainya juga menarik serta sudah sesuai dengan kaidah kebahasaan dan struktur yang ada.

    BalasHapus
  6. Teks kritik dan esai yang sudah dibuat sudah sesuai dengan kaidah kebahasaan serta strukturnya

    BalasHapus
  7. teks kritik dan esai jya sudah bagus sesuai dengan kaidah kebahasaan dan mudah di pahami

    BalasHapus
  8. Teks Esai yang dibuat sangatlah menarik karena mengangkat topik yang sedang hangat dibicarakan. Teks kritik yang dibuat juga sudah menggunakan unsur dan kaidah kebahasaaan yang sesuai dengan aturan, serta menggunakan gaya bahasa yang mudah dipahami.

    BalasHapus
  9. Teks Kritik dan Esai nya sudah bagus, semangat

    BalasHapus
  10. Teks kritik yang dibuat sudah sesuai dengan unsur, serta menggunakan gaya bahasa yang mudah dipahami selain itu memberikan informasi yang jelas bagi pembacanya. Teks esai yang dibuat juga sangat menarik untuk dibaca dan menggunakan gaya bahasa yang mudah dipahami.

    BalasHapus

Posting Komentar