Menyusun Kerangka Novel
Nama : Anggun Puspita Febiyanti
Kelas : XII MIPA 9
No. Absen : 02
Menyusun Kerangka Novel
Kelas : XII MIPA 9
No. Absen : 02
Menyusun Kerangka Novel
1. Tema :
2. Judul :Body shaming
Bullying makes success
3. Tokoh dan perwatakan
4. Alur : Maju
- Syla : penyabar, baik hati, pekerja keras, pintar, pemaaf
- Ayah : baik hati, mendukung anaknya
- Ibu : baik hati, pengertian, mendukung anaknya
- Lala : baik, pintar
- Bu Cyntia : baik, tegas
- Bu indah : baik
a) Latar tempat :
- Rumah syla
- Ruang makan
- Gerbang sekolah
- Sekolah SMP Esa Unggul
- Kelas
- Perpustakaan SMP Esa Unggul
- Cafe
- Ruang Teater
- Sekolah SMA Nusa
- Rumah Sakit
b) Latar Waktu:
- Pagi hari
- Siang hari
- Hari Selasa
- Sore Hari
- Setelah 3 bulan
- Pukul 05.00
c) Latar Suasana :
- Sedih
- Kesal
- Senang
- Kaget
- Bahagia
- Takut
- Khawatir
- Antusias
6. Amanat :
- Jadilah orang yang penyabar, dan baik hati
- Janganlah melakukan perundungan karena hal itu perilaku yang tidak baik
- Tetaplah bersyukur dengan apa yang Tuhan berikan
- Jadikanlah kehidupan masa lalu pembelajaran untuk masa depan
- Makan dan minum secukupnya jangan berlebihan
- Janganlah ada perasaan iri terhadap orang lain
- Gapailah mimpi setinggi langit
- Ketika sedang bersedih ataupun berbahagia ceritakanlah kepada Tuhan
7. Ringkasan cerita
Bullying makes success
Bab 1 Hari pertama sekolah
Pagi hari ini aku pertama kali masuk sekolah SMP, ya aku baru saja lulus sekolah dasar dan sekarang aku duduk di bangku SMP, lebih tepatnya SMP esa unggul. Aku adalah Syla Armanta anak pertama dari ayah dan ibu, aku memiliki adik bernama Lala Armanta dia berumur 11 tahun berbeda 2 tahun denganku, ya aku berumur 13 tahun. Ayah bekerja sebagai pembawa berita di sebuah stasiun TV, dan ibu membuka resto makanan khas Bandung.
“ Anak- anak mari makan, sarapan sudah siap” ucap ibu.
Aku turun ke bawah dengan mengenakan seragam SMP baruku sambil membawa tas, terlihatlah adik ku Lala mengenakan seragam SD-nya dengan tatanan rambut yang rapi. Kami turun ke bawah bersama untuk sarapan. Aku mengambil nasi dengan porsi seperti biasa tak lama ibu langsung berbicara “ Kaka jangan banyak-banyak makannya” itu yang selalu ibu katakan ketika aku hendak mengambil nasi. Aku hanya menurut saja. Setelah sarapan, ayah mengantar kami ke sekolah. Ketika di perjalanan, ayah berbicara kepadaku, “Syla sayang, semoga betah ya sekolahnya, jaga diri baik-baik” sambil mengusap rambutku.
Ketika pertama masuk ke lingkungan sekolah, kata-kata yang kudengar adalah “ihh kok gendut sih” ya, aku adalah anak yang kelebihan berat badan di umurku yang 13 tahun. Ketika masuk kelas pun begitu, aku ditanyai pertanyaan “berapa berat badanmu?” apakah pertanyaan begitu pantas ditanyakan?. Bel pun berdering tanda pembelajaran akan dimulai, aku tidak menjawab pertanyaan mereka.
Tidak lama setelah bel berbunyi ada guru yang masuk ke dalam kelas, guru itu bernama Bu Cyntia ternyata ia adalah wali kelas ku yang mengajar matematika. Bu Cyntia pun memperkenalkan dirinya dan meminta kami untuk memperkenalkan diri.
“ Perkenalkan nama saya Syla Armanta, saya lulusan SD pelita. Hobi saya adalah membaca, membaca majalah, novel atau apapun itu. Cita-cita saya adalah menjadi model.” Ucap ku memperkenalkan diri.
“ hahahaha” terdengar suara tertawa dari beberapa siswa yang ada di kelas itu.
“ Sudah-sudah kenapa jadi tertawa seperti ini, tidak sopan mohon berhenti. Untuk yang merasa dirinya tertawa saat Syla memperkenalkan diri harap berdiri diluar kelas sampai jam pelajaran ibu selesai.” jawab Bu Cyntia mendengar suara tertawa siswa dengan wajah tegas.
Sontak mereka berhenti tertawa, aku merasa sedih ketika mendengar tertawaan siswa lain. Tetapi, aku tidak boleh menangis karena menangis di sekolah tidak ada artinya. Pelajaran pun dimulai, aku menyimak materi yang di ajarkan dengan serius. Tepat pukul 12.30 bel sekolah terdengar jelas dan panjang yang bertandakan waktu belajar di sekolah sudah selesai. Siang itu aku pun langsung menuju gerbang sekolah dan menunggu ayah menjemput, tidak lama kemudian ayah datang.
Ayah melihat aku bermuka murung dan bersedih, kemudian bertanya “ ada apa nih anak ayah kok mukanya begitu? Tanya ayah sambil menyetir. “Tidak apa-apa ayah” aku menjawab pertanyaan ayah. Aku tidak mau ayah mengetahui kalau hari pertama sekolah ku tidak baik. “ yaudah kalo ga mau cerita, gimana kalo kita makan es krim biar wajah kamu tersenyum” ucap ayah. Ketika aku terlihat sedih, ayah selalu menghiburku entah itu membelikan aku es krim atau pun buku, berbeda dengan ibu ketika ayah membelikan aku es krim atau pun coklat ibu pasti melarang ayah. Katanya “ cukup yah Kaka sudah tidak boleh makan coklat-coklat lagi berat badannya bertambah”. Jadi jika ayah mengajakku membeli es krim atau pun coklat pasti sembunyi-sembunyi dari ibu. Di cafe aku memakan es krim bersama ayah sambil menunggu Lala pulang bimbingan belajar.
Bab 2 Ketika seorang merundung ku
Hari Selasa seperti biasa aku sarapan bersama ayah, ibu dan Lala. Di sekolah ada pemilihan ekstrakurikuler untuk siswa baru aku bingung memilih apa, ada banyak sekali macam-macam ekstrakurikuler di sekolah. Aku sempat menanyakan kepada teman yang lain tapi mereka tidak menjawabku, semua tidak ingin berbicara kepadaku. Entah mengapa, yang pasti apa karena aku gendut?. Ah biarlah saja, disekolah bukan ajang mencari teman tapi untuk mencari ilmu sebanyak-banyaknya.
Saat jam istirahat, aku makan bekal di kelas setelahnya aku bergegas ke perpustakaan untuk membaca buku. Di sana aku membaca buku sekolah yang berisi tempat-tempat sekolah, prestasi, hingga ekstrakurikuler. “wah ternyata sekolah ini banyak siswa yang berprestasi” ucapku ketika membaca bagian prestasi di buku itu. Ketika membaca bagian ekstrakurikuler aku menemukan salah satu yang ingin aku pelajari yaitu beracting, untuk itu aku masuk ekskul teater. Bel berdering sebentar bertanda waktu istirahat sudah habis, padahal aku masih mau membaca buku lain.
Pelajaran sekarang adalah seni budaya, guru pun masuk ke kelas dan memperkenalkan diri. “ Perkenalkan nama ibu Indah, ibu mengajar pelajaran seni budaya sekaligus menjadi pembina ekskul teater. Jika kalian berminat untuk mengikuti ekskul teater nanti mengisi formulir yang akan di bagikan saat pelajaran terakhir. Oh iya ibu juga mau memberitahu untuk yang mengikuti ekskul teater pulang sekolah berkumpul di ruang teater. Baik sekarang kita mulai pelajarannya kita akan mempelajari seni rupa” ketika aku melihatnya pertama kali adalah tinggi badannya, yas aku ingin sekali tinggi seperti model yang di tv ataupun majalah. Entah mengapa aku bercita-cita jadi model, aku senang melihat model berjalan di Fashion week meski aku melihatnya hanya di internet.
Aku meminta ayah untuk tidak menjemput karena aku akan pulang telat untuk berkumpul ekskul teater. Di ruang teater aku melihat sekitar 30an siswa lain yang berkumpul sambil membawa formulir yang sama dengan yang diberikan Bu Indah tadi. Semua siswa baru duduk dan mendengarkan perkataan senior yang menjelaskan tentang teater. Para senior itu memperkenalkan diri mereka masing-masing kepada siswa siswi baru.
“Perkenalkan nama saya Syla armanta, saya lulusan SD pelita. Hobi saya adalah membaca, membaca majalah, novel atau apapun itu. Alasan untuk menjadi bagian dari siswa teater sekolah adalah aku ingin belajar untuk beracting apakah aku bisa melakukannya? Dan Cita-cita ku adalah menjadi model.” Ucapku memperkenalkan diri.
“Gendut-gendut cita-cita jadi model hahaha” celetuk seorang siswa dengan suara kecil. Tapi aku tetap bisa mendengarnya, tak lama anak itu didatangi salah satu senior dan dimarahi “ jangan begitu di teater ini tidak boleh ada yang namanya perundungan atau semacamnya jika melanggar aturan maka akan dikeluarkan” ucap senior itu dengan nada tinggi sehingga semua siswa baru itu mendengar dan tertunduk. “ Untuk itu jika kamu masih memiliki perbuatan seperti itu, kamu tidak boleh masuk ekskul ini” lanjut seorang senior lagi dengan nada sedikit lebih rendah. Aku masih berdiri di depan untuk memperkenalkan diri, akhirnya ada yang membelaku. Kumpulan hari ini hanya perkenalan saja tidak banyak yang kami lakukan. Pukul 15.30 aku meminta jemput kepada ayah.
Bab 3 Hikmah di balik perundungan
Aku tidak masalah dengan badan ku, aku tidak malu memiliki badan seperti ini, tapi mengapa ada saja orang yang tidak suka? Ya pasti semua orang ada masa dimana orang tidak menyukainya. Di sekolah, aku belajar dengan rajin sampai mendapatkan rank 1 berturut-turut di 6 semester. Hari ini adalah pembagian ijazah setelah melakukan ujian-ujian yang diadakan sekolah. Kini aku berusia 16 tahun, masih dengan berat badan yang overweight karena aku suka makan. Teater berjalan dengan lancar, hanya ekskul disinilah aku tidak dikatakan “ihh kamu gendut” tapi masih saja, ketika ada penampilan teater di sekolah aku masih suka mendengar orang-orang mengatakan aku gendut. Aku tidak peduli.
Aku mendaftarkan ke sekolah SMA Nusa yang tempatnya dekat dengan rumah nenek ku, di sana aku mengambil jurusan IPS. Mengapa jurusan IPS? Karena sebenarnya aku lebih suka membaca daripada menghitung. Dan orang tua ku juga mendukung aku masuk jurusan IPS di SMA Nusa. Saat di sekolah SMA Nusa 1 bulan berlalu rasanya seperti lelah sekali karena mungkin di SMP kegiatanku tidak sepadat di SMA ini. Aku juga sering mual ataupun muntah beberapa hari yang lalu aku mengalami anosmia juga pandangan sedikit kabur padahal mataku tidak minus, sakit kepala yang semakin lama semakin memburuk. Aku tidak tahu kenapa, aku berbicara kepada ibu dan ayah tentang gejala yang aku rasakan, nafsu makan ku hilang setelah gejala-gejala ini muncul.
“ Ayo kita periksa ke dokter, sudah berapa lama kamu mengalaminya?” ucap Ayah dengan muka tegang.
“ Beberapa hari yang lalu yah” jawabku.
Ayah, ibu dan aku bergegas ke rumah sakit meninggalkan Lala dirumah yang ditemani nenek. Aku takut jika berada dirumah sakit, teringat kakek yang meninggal sakit jantung di rumah sakit ini. Setelah di periksa ternyata aku menderita Meningioma tingkat 2, Meningioma adalah tumor yang terbentuk di meninges, yaitu pelindung otak dan tulang belakang. Tumor ini biasanya tumbuh di otak, tetapi juga bisa tumbuh di tulang belakang.
Aku terkejut mendengar perkataan dokter, ayah mengambil tindakan untuk mengoperasi dalam waktu yang dekat. Aku menyetujui perkataan ayah dan ibu juga, harapan ku adalah aku masih ingin tetap hidup untuk melihatkan kepada semua orang bahwa aku bisa sukses, aku ingin menunjukkan kepada orang-orang yang merundung ku bahwa aku bisa lebih dari mereka. Aku hanya berharap begitu kepada Tuhan.
“ Sayang anak ibu yang kuat ya, Nak” ucap ibu sambil mencium kening ku.
Ibu memang suka memarahi jika aku makan terlalu banyak apalagi jika aku memakan coklat. Tapi aku suka tidak mendengarkannya, aku menyesal tidak mendengarkan perkataan ibu. Siang ini aku akan menjalankan operasi, sebelumnya aku meminta maaf kepada teman-teman, guru-guru, terutama ayah dan ibu, serta meminta juga mereka mendoakan aku agar aku sembuh dari penyakit ini.
Sore itu aku telah selesai operasi, operasi berjalan dengan lancar. Doa orang terdekatku dikabulkan oleh tuhan. Akibat dari meningioma yang aku alami, aku sudah tidak makan banyak lagi, alhasil berat badan ku menurun drastis menjadi 45kg, kurang lebih 1 bulan aku di rawat di rumah sakit, akhirnya aku pulang. Aku bersyukur masih bisa melihat orang yang menyayangiku, dan bisa pulang ke rumah memakan makanan yang enak.
Bab 4 Semuanya berubah
Seminggu setelah aku pulang dari rumah sakit, aku masuk sekolah. Alarm berbunyi jam 05.00 bertanda aku harus bergegas mandi dan bersiap-siap ke sekolah. Saat aku mengenakan baju seragam, ternyata seragam yang biasa aku pakai terlihat longgar, aku lupa bilang ke ibu di hari sebelumnya untuk mengecilkan seragam, akhirnya aku tetap memakai seragam SMA yang biasa aku pakai.
Di sekolah orang-orang menghampiriku untuk menanyakan keadaanku sekarang, banyak yang terkejut aku menjadi memiliki berat badan ideal. Sebenarnya aku lebih terkejut terutama saat di depan kaca. Banyak yang mengajak aku mengobrol, padahal di SMP aku tidak pernah di ajak mengobrol oleh teman sekelas, ketika mengobrol pun pasti mereka menanyakan tugas.
Entah apa yang dipikirkan ku sekarang, aku bisa saja sangat sedih atau sangat senang. Aku senang karena di sekolah banyak teman yang baik, aku juga sedih karena selalu mengingat kejadian perundungan di SMP. Menjadikan aku memilih teman dengan hati-hati karena trauma mendengarkan perkataan-perkataan perundungan. Tidak lupa dengan mimpiku ketika aku berumur 13 tahun yaitu untuk menjadi seorang model. Aku berbicara kepada ayah dan ibu tentang mimpiku yang aku tahu ketika aku berumur 13 tahun.
“ Ayah ibu aku bermimpi untuk menjadi model internasional” ucap ku ketika sarapan.
“ Wah!!! Hebat kak, aku doakan semoga Kaka bisa menjadi model internasional” ucap Lala kagum.
“ wah! Ibu akan mencarikan sekolah modeling untuk kamu sayang, kamu kan tinggi, cantik, anak pintar, cocok menjadi model”
“ Apa sekolah model gaakan memberatkan kamu? Apa kamu bisa membagi waktu antara sekolah pendidikan dengan sekolah modeling?” tanya ayah.
“Ayah seperti yang tidak tahu aku saja, aku kan senang jika hari-hariku sibuk kegiatan” jawab ku dengan antusias.
Aku baru pertama kali mengobrol mimpi ku dengan ayah dan ibu, apalagi disitu ada Lala yang sering mendapatkan medali dari olimpiade yang diikutinya. Aku pikir ibu atau ayah tidak akan mendukungku, tapi ternyata mereka mendukung dengan sangat antusias mendengarkan aku bercerita. Di sekolah aku mengikuti ekskul modeling dan voli, entah mengapa aku jadi suka bermain voli, padahal saat SMP aku sangat benci ketika berolahraga bermain voli.
Bab 5 Bersyukur dengan apa yang dijalani
Hari demi hari, waktu demi waktu akhirnya aku menjalankan sekolah SMA dan sekolah modeling bersamaan. Setiap hari aku lelah, tetapi lelah ini membuat aku bahagia, aku suka ketika aku menjalankan hidup dengan yang aku inginkan. Setelah 3 bulan mengikuti sekolah modeling, aku pertama kali diajak untuk menjadi model produk. Aku senang, ayah dan ibu juga selalu mendukungku. Aku bersyukur dengan apa yang telah aku jalani, mereka yang merundungku waktu SMP telah aku maafkan walaupun mereka tidak meminta maaf. Aku selalu berdoa kepada Tuhan semoga aku bisa sukses dan membahagiakan orang tuaku. Aku juga berdoa agar aku menjadi model internasional yang bisa runway di ajang Fashion Week tidak hanya menjadi model produk saja. Aku senang mimpiku terwujud untuk menjadi model.
Kerangka novel yang dibuat sudah lengkap, isi novel yang akan dibuat mudah dipahami pembaca sehingga menarik untuk dibaca.
BalasHapus